Editorial

VOLUME IV EDISI 6.

            Pembaca yang budiman,

Perhatian sebagian orang atau kelompok masyarakat terhadap keaneka-ragaman budaya daerah yang menyuguhkan bentuk-bentuk kearifan lokal (local wisdom) selalu dilakukan dalam berbagai kerja atau tindakan nyata. Tindakan pengkajian/penelitian, penciptaan karya seni, festival/kompetisi seni, pembinaan/pelatihan, maupun tindakan pelestarian seni, sungguh mampu menumbuhkan perasaan dan sikap optimisme kita terhadap kokohnya eksistensi dan citra kebesaran budaya bangsa yang bercirikan kedaerahan (local identity).

Dalam terbitan Jurnal TEROB edisi kali ini, tim redaksi memilih dan menyajikan beberapa tulisan menarik yang sekiranya mampu menambah cakrawala pandang kita tentang eksistensi budaya daerah/seni tradisional, di tengah-tengah situasi carut-marut berbagai persoalan sosial, ekonomi, maupun situasi politik yang kita hadapai pada saat ini.

Pada sajian pertama memuat tulisan dari Jarianto. Dalam artikelnya penulis menyoroti persoalan globalisasi kebudayaan yang menurutnya cenderung intimidatif dan merusak moral generasi muda. Maka sebagai upaya untuk mengeliminir pengaruh-pengaruh negatif dari glabalisasi kebudayaan tersebut salah satunya dengan melakukan penguatan terhadap keberadaan seni budaya etnis yang tersebar di wilayah-wilayah suku bangsa, sehingga mampu menjadi filter dari kekuatan daya tekan budaya global. Karakter generasi muda yang masih labil memerlukan penguatan  melalui kegiatan praktis estetis seni dan apresiasinya. Guru seni merupakan modal strategis untuk mengeliminir shock budaya global. Untuk itu para guru seni dituntut untuk mampu menguasai sistem pembelajaran yang sistematis  dan membumi, sehingga diharapkan mampu menanamkan nilai-nilai (tata susila, norma, etika) yang terkandung dalam seni budaya etnis kepada genarasi muda, supaya tetap memiliki karakter yang sesuai dengan budaya bangsa.

Artikel kedua ditulis oleh saudara Wahyudiyanto yang menyoroti Reyog Ponorogo dalam kemasan Festival Reyog Nasional. Reyog Festival sebagai genre baru merupakan perkembangan dari Reyog Obyog yang khas sebagai reyog arak-arakan. Reyog Festival yang dipanggungkan menjadi terasa megah karena pengaruh dari panduan petunjuk pelaksanaan yang dikeluarkan oleh panitia penyelenggara festival. Perkembangan pertunjukan Reyog Festival disebabkan oleh garap unsur-unsur pertunjukan dan unsur non pertunjukan. Garap Unsur pertunjukan meliputi: garap materi, garap penggarap, garap sarana, dan garap perabot pertunjukan. Garap Unsur non pertunjukan adalah garap otoritas pemerintah kabupaten Ponorogo yang bekerja sama dengan Yayasan Reyog Ponorogo. Pesan yang disampaikan dalam Reyog Festival adalah bahwa perkembangan reyog dipengaruhi oleh beberapa faktor: pertama kesediaan seniman dalam mengembangkan unsur-unsur pertunjukan Reyog, kedua kesediaan organisasi pengelola Reyog untuk bekerja sama dengan otoritas Pemerintah, ketiga manajemen politik kebudayaan yang berpihak pada pertumbuhan dan kelestarian kesenian tradisional sebagai seni budaya bangsa.

Artikel ketiga ditulis oleh saudara Bondet Wrahatnala yang menyajikan hasil penelitiannya tentang keberadaan seni Kentrung di Desa Ngasem, Kecamatan Batealit, Kabupaten Jepara. Dalam kajiannya, peneliti memandang bahwa seni kentrung merupakan sebuah wujud seni tutur (seni bercerita/mendongeng) dengan balutan elemen musik sebagai wahana estetis dalam penyajian cerita. Seni kentrung merupakan pencerminan dari sikap hidup yang dimiliki oleh sebagian masyarakat Desa Ngasem yakni sikap sabar lan narimo yang dapat dilihat dari keseharian dalam berinteraksi, berperilaku, berpenampilan, dan tentunya bersikap. Menurut Bondet, masyarakat Ngasem meyakini betul bahwasannya seni kentrung menjadi media utama dalam mensosialisasikan nilai-nilai kehidupan yang “seharusnya” dilakukan oleh umat manusia. Melalui seni kentrung, nilai-nilai tersebut dapat diekspresikan melalui lantunan cerita (tutur) dan juga petuah-petuah yang terselip dalam pantun.

Berebeda dengan tiga artikel di atas, saudara Joko Susilo menulis tentang gambaran karya seni tradisi yang telah dibuatnya, dan karya tersebut merujuk atau berlatarkan pertunjukan Sandur Tuban. Karya pertunjukan yang dibuat berjudul Kalongking , diambil dari dua kata yaitu Kalong dan Aking. Kalong adalah hewan serupa Kelelawar yang berukuran besar, sedangkan Aking artinya kering. KalongAking (Kalong kering), dapat dipahami sebagai Kalong yang sudah mati. Apabila dihubungkan dengan fase terakhir pertunjukan Sandur, peristiwa kalongkingan atau bandulan sebagai simbol dari proses menuju kesempurnaan yaitu akhir perjalanan manusia yang telah mencapai puncak hidupnya, yakni kembali ke ‘Atas’, kembali ke Tuhan atau meninggal dunia. Menurut Joko, pertunjukan Sandur pernah mengalami masa keemasan di era 1970 s/d 1980-an, dengan jumlah group atau kelompok Sandur yang secara kuantitas cukup membanggakan dengan frekuensi pementasan yang lumayan banyak. Namun dewasa ini kondisi kehidupan Sandur menjadi sangat memprihatinkan, bahkan dapat di sebutkan bahwa keberadaan Sandur menuju ambang kepunahan. Kondisi demikian tentunya tidak bisa dibiarkan berlarut-larut mengingat nilai-nilai yang terkandung dalam pertunjukan Sandur sangat dibutuhkan masyarakat agar dapat menjadi filter atau benteng pertahanan terakhir dari pengaruh negatif budaya global yang akan menggerus sendi-sendi kehidupan masyarakat. Maka melalui karya seni pertunjukan yang dibuatnya tersebut, diharapkaan akan mampu mendongkrak dan mengembalikan kembali minat masyarakat pada kesenian Sandur.

Artikel selanjutnya ditulis oleh saudara Murlan yang membahas tentang Keunikan Penyajian Tayub Dalam Tradisi Manganan di Dusun Krasaan, Kumpulrejo, Kecamatan Parengan, Kabupaten Tuban. Menurut  Murlan, kehadiran Tayub pada ritual bersih desa (tradisi manganan) merupakan gejala yang bersifat sakral dan sosial dengan ciri-ciri: Diselenggarakan pada saat yang terpilih; Dilakukan di tempat yang terpilih; Penari pria atau pengibing yang menari pertama bersama ledhek harus pria yang terpilih; Diperlukan pula berbagai sesaji; Ledhek yang tampil harus terpilih. Struktur pertunjukan Tayub dalam keperluan ritual, khajad pernikahan, dan pelunasan nazar di Kabupaten Tuban pada intinya hampir sama. Dalam keperluan ritual urutan-urutan penyajiannya meliputi: Penyajian gending-gending klenengan (uyon-uyon); Pambagyaharja (ucapan selamat datang); Gambyongan (sajian tari gambyong); dan sajian Ladrang Eling-Eling; Ngibing cah angon; Tayuban yang terdiri atas panembrama, sliring, dan ngibing.

Dalam sajian artikel keenam yang ditulis oleh Nandi Saefurrohman memaparkan tentang sosok dan perjalanan salah seorang dari sekian banyak tokoh seni Ludruk asal Surabaya yaitu Sidik Wibisono atau biasa dipanggil Cak Sidik yang menurut penulis dapat diktagorikan sebagai pelestari kidungan Jawatimuran gaya Surabaya, sehingga mampu bertahan dalam setiap situasi perkembangan jaman. Keberadaan Sidik Wibisono yang tergabung dalam Ludruk RRI ternyata membawa angin segar bagi pertumbuhan Ludruk di Surabaya. Pada awal tahun 70-an kidungan lawakan Sidik Wibisono mulai digemari oleh masyarakat Jawa Timur khususnya di wilayah Surabaya dan sekitarnya. Parikannya yang tegas dan lugas penuh kata-kata humor (guyonan) yang segar. Kidungannya kaya akan cengkok-cengkok. Pembawaannya di panggung pertunjukan mampu membuat penonton tertawa dan betah untuk mentonton sampai pertunjukannya selesai.

Artikel berikutnya ditulis oleh saudara I Wayan Sama yang membahas tentang persoalan ranah estetika bentuk tari Oleg Tamulilingan. Menurut Wayan, estetika merupakan suatu ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang berkaitan dengan keindahan, mempelajari semua aspek yang disebut keindahan, juga mempersoalkan hakekat keindahan alam dan karya seni yang dapat diaplikasikan dalam berbagai karya seni, termasuk seni tari. Bentuk Tari Oleg Tamulilingan menggambarkan dua ekor kumbang jantan dan kumbang betina yang sedang bersenang-senang di taman bunga sambil bermain-main, mengisap madu dan sari-sari bunga dan kemudian berterbangan satu sama lainnya, yang diinterpretasikan sebagai tari percintaan karena pada akhir tarinya mereka menunjukkan gerak tari berkasih-kasihan. Tari Oleg Tamulilingan oleh Wayan dikaji dengan menggunakan teori estetika bentuk yaitu teori mimesis (peniruan alam) sesuai dengan bentuk-bentuk aslinya, dan teori imitasi alam yang membawa kebaikan dimana manusia harus mampu membuat sesuatu menjadi lebih baik dari pada sebenarnya. Nilai estetis dari tari Oleg Tamulilingan dibangun melalui struktur organisasi antara ruang penari, ruang gerak, kostum, tata rias dan aspek musik.

Untuk lebih menambah cakrawala pengetahuan kita, maka pada artikel terakhir edisi Jurnal Terob kali ini disajikan sebuah tulisan menarik dari Yekti Herlina yang membahas seputar masalah ide dan kreatifitas fotografi. Saudari Yekti menyebutkan bahwa keunggulan kreatif dan ide yang cemerlang akan semakin menunjukkan perannya dalam dunia fotografi. Fotografi   bukan  sekedar merupakan  rekaman  apa adanya  dari dunia nyata, tapi menjadi  karya seni yang kompleks  dan media gambar yang juga memberi makna dan pesan. Dalam teknik dasar  pemotretan gerak seperti teknik blurring, teknik panning, teknik freezing dan teknik zooming diperlukan  berbagai titik kreatif, tetapi untuk menjadi fotografer kreatif  harus  banyak  mencoba,  belajar dari kesalahan, dan terus berkarya.

Pembaca yang budiman, demikianlah gambaran tentang isi artikel-artikel yang dimuat pada Jurnal Terob edisi kali ini. Mudah-mudahan dapat menambah pengetahuan kita.

Selamat membaca.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s